Seperti yang kita ketahui kali ini kemerdekaan juga bersamaan dengan turunnya Al Qur’an sebagai kitab suci umat Islam.Menurut ulama ahli sejarah,Al-Quran diturunkan pada hari ke-17 bulan Ramadhan tahun 41 Fiel, yang bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M. Rasulullah pada waktu itu berumur 40 tahun. Dan penghabisan Al-Quran diturunkan pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke 10 Hijriyyah, bertepatan dengan 8 Maret tahun 632 M.Pada saat itu Rasulullah sudah berusia 63 tahun. Masa diturunkannya Al-Quran selama 22 tahun dua bulan 22 hari.
Kemerdekaan Indonesia direbut dengan susah payah,ada pula yang mengatakan proklamasi kemerdekaan yang diselenggarakan tanggal 17 agustus 1945 berlangsung secara mendadak alias tibat-tiba.Dari mulai tahun 1511 sampai dengan 1945 Indonesia telah dijajah oleh bangsa asing.Bangsa penjajah seperti Portugis, Belanda, inggris dan Jepang telah memberikan pelajaran berarti akan nilai-nilai perjuangan para pahlawan yang lera mengorbankan nyawanya untuk bangsa dan negara.
Kembali saya menuliskan tentang turunkan Al Qur’an terlebih dahulu,
Dikisahkan,Nabi Muhammad SAW ketika menerima wahyu pertama kali di Gua Hiraa’ dan dengan gunung yang bernama “Jabal Nuur”. Saat itu Rasulullah SAW sedang mengasingkan diri dari masyarakat yang ramai untuk bermunajad dan beribadah. Beliau saw sering mengasingkan diri di dalam gua tersebut dari pertengahan bulan Rabi’ul Awwal sampai bulan Ramadhan. Jadi lebih kurang enam bulan lamanya beliau sering pergi dari kota Makkah berkhalwat ke gua tersebut.
Selanjutnya pada suatu malam di bulan Ramadhan dalam keadaan sunyi senyap, gelap gulita, dan beliau yang seorang diri didatangi Malaikat Jibril, yang sebelumnya tidak pernah beliau kenal. Malaikat Jibril memberi tahu beliau bahwa malam itu beliau telah diangkat menjadi Rasul Allah dan mulai diberi wahyu yaitu diawali dengan lima ayat surah Al-Alaq.
Adapun wahyu yang terahir diturunkan kepada Rasulullah SAW, menurut beberapa riwayat yang banyak disepakati para ulama adalah pada waktu Rasulullah SAW mengerjakan ibadah haji wada’ di Padang Arafah bersama-sama kaum muslimin pada 9 Dzulhijjah tahun ke 10 Hijriyyah. Hanya berselang 81 hari dari wafatnya Nabi.
Di kala Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah SAW,banyak orang Arab yang ahli menyusun kata-kata untuk berpidato denga bahasa yang halus, fasih, dan indah. Begitu juga para penyairnya, sangatlah terkenal.
Namun apa yang terjadi setelah Al-Quran diturunkan?
Tidak seorang pun yang dapat mengimbangi satu ayat pun dalam Al-Quran.Allah SWT menyatakan dengan firman-Nya melalui perantaraan Nabi-Nya, mereka yang menentang Al-Quran dipersilakan membuat satu ayat saja yang bisa mengimbangi atau yang serupa dengan ayat Al-Quran, tapi tidak satu pun mereka yang mampu menjawab tantangan tersebut.
Bulan Ramadhan itu yang di dalamnya diturunkan permulaan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk-petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185)
Kembali dengan kaitannya hari kemerdekaan,
Dan ternyata kemerdekaan tidak terlepas dari tokoh-tokoh perjuangan yang mengamplikasikan nilai-nilai dalam Al Qur’an yang memberikan petunjuk bagi manusia untuk bertingkah laku yang lebih baik. Semangat juang yang tidak kenal menyerah serta dilandasi iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta keikhlasan berkorban telah terpatri dalam jiwa para pemuda dan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaannya, yang kemudian diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta.Semua nilai-nilai diatas telah terkandung dalam Al Qur’an.
Hal ini dapat dibuktikan dari,
Pembukaan UUD 1945 tertulis “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”.Bila dihubungkan dengan Al Qur’an maka akan bertemu dengan suatu ayat yang berbunyi,
“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala suatu”. (Qs. Al-Hajj : 6)
Beberapa tokoh islam yang membela Tanah Air dengan semangat juangnya antara lain Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Bung Tomo, serta masih banyak lagi yang mengobarkan semangat jihad para pejuang untuk berperang memaksa penjajah hengkang dari bumi pertiwi, bahkan menghancurkannya.
Seperti kita ketahui kalau proklamasi juga dilaksanakan pada bulan Ramadhan,ada suatu cerita menarik dari Tubagus Dudum Sondjaja,

Dudum Sondjaja (Kanan)
Diungkapakn oleh Dudum sendiri, ” Pertama pada saat itu kan bulan Puasa. Biasanya, orang pada pagi dan siang harinya banyak di rumah saja. Tapi, 15 Agustus di Rengasdengkok kok banyak sekali pemuda berani mengibarkan bendera Merah Putih dan teriak-teriak merdeka. Pasti ada tamu agung nih.’’
Apalagi sehari sebelumnya, yaitu tanggal 14 Agustus, orang Jepang bernama Mitsui yang dipercaya mengelola penggilingan beras terbesar di Karawang, datang sambil menangis. Pasalnya, dia mendengar langsung berita Nagasaki dibom atom Sekutu. Akibatnya, keluarga Mitsui di Jepang diperkirakan tewas dengan tragis karena lokasi rumahnya di tengah kota.
Mitsui lalu menyerahkan mobilnya kepada ayah Dudum seraya berkata ’’merdeka ayo merdeka saja’’.
Di kemudian hari, Dudum melalui ayahnya ( MS Syafe’i adalah ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Karawang ) mengetahui bahwa Mitsui melakukan hal itu karena hidupnya merasa sudah tidak punya harapan lagi. Dia ingin segera pulang ke kampung halamannya.
Hikmah yang luar biasa,pada 16 agustus malamnya masyarakat setempat menggelar pawai obor. Pawai obor adalah tradisi masyarakat pantura Jawa pada malam bulan Ramadan, terlebih lagi bila bertepatan dengan Nuzulul Quran. Tapi pawai obor kali ini juga dibarengi dengan teriakan merdeka, selain shalawatan.
’’Jepang tidak sadar karena mengira ini adalah perayaan Ramadan. Mereka kan pahamnya setiap puasa ya begini yang terjadi, ada pawai obor. Padahal pawai ini juga spesial karena rakyat senang dengan Indonesia yang merdeka. Tapi saya tidak tahu Jepang yang menjaga jalan-jalan tempat pawai itu tidak ngeh atau memang tidak semangat lagi mencegah orang Indonesia merdeka. Karena tahu sudah kalah perang, lebih baik berpikir segera pulang,’’ ujarnya mengenang. (Hartono Harimurti, Setiady Dwie-20)
Subhanallah,ternyata hikmah luar biasa turunnya Al Qur’an dimana pada tahun 1945,Indonesia secara berani dan dalam keadaan melaksanakan Rukun Islam yaitu Puasa Ramadhan langsung memproklamasikan kemerdekaan.Mana mungkin,banyak para pejuang melakukan puasa tampa mengenal Al Qur’an.Apalagi Jepang sempat terkecoh,karena dikira sedang melaksanakan acara keagamaan,eh ternyata juga ada acara kemerdekaan.
Dirgahayu Indonesiaku,Merdeka!!!